synergy2000.net – Apakah sering mendengar atau mengetahui tentang laporan fiskal? Mungkin bagi Anda yang belum familiar dengan laporan keuangan masih belum mengetahui bagaimana bentuk dan tujuan dari pembuatan laporan keuangan tersebut. Laporan keuangan fiskal merupakan laporan keuangan yang digunakan untuk keperluan perhitungan pajak, sehingga cara penyusunannya akan disesuaikan dengan peraturan perpajakan. 

Pada dasarnya bentuk laporan keuangan tersebut tidak diatur secara khusus dalam undang-undang perpajakan, hanya saja diberikan batasan pada hal-hal tertentu, termasuk persoalan biaya maupun pengakuan penghasilan. Jadi, laporan keuangan fiskal dihasilkan dari rekonsiliasi antara koreksi fiskal dengan laporan keuangan komersial. 

Untuk standar akuntansi keuangannya dapat mengikuti aturan akuntansi pajak penghasilan khusus PSAK 46. Sebaiknya, Anda mengetahui terlebih dahulu beberapa cakupan yang ada dalam penyusunan laporan keuangan fiskal. Berikut diantaranya:

  • Ikhtisar kewajiban pajak
  • Penjelasan laporan keuangan
  • perhitungan laba rugi perusahaan serta perubahan dari laba yang ditahan
  • Neraca Fiskal
  • Rekonsiliasi antara laporan keuangan fiskal dan laporan keuangan komersial. 

Cara Membuat Laporan Keuangan Fiskal

Pembuatan laporan keuangan fiskal dapat dilakukan dengan dua cara, antara lain sebagai berikut:

  • Extra Compatible Approach, semua transaksi dibukukan oleh Wajib Pajak menggunakan konsep akuntansi dan akan dikoreksi ketika akhir tahun sesuai dengan Undang-undang Pajak Penghasilan terhadap laporan keuangan komersial. Hasil dari pembukuan tersebut yang kemudian digunakan untuk menghitung PPh terutang. 
  • Pendekatan terpisah, semua informasi atau transaksi akan dicatat oleh Wajib Pajak yang kemudian digunakan sesuai dengan prinsip akuntansi keperluan komersial untuk menghitung PPh terutang. 

Dari kedua cara pembuatan laporan keuangan fiskal, maka dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan tersebut dengan laporan keuangan komersial sangat erat kaitannya. Sebab, ketika melakukan rekonsiliasi fiskal, Wajib Pajak membutuhkan laporan keuangan komersial yang menjadi dasar perhitungannya. 

Baca Juga : Status Pinjaman Online Tunaiku di Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Lalu, Apa Perbedaan Kedua Laporan Keuangan Tersebut?

Baik itu laporan keuangan fiskal maupun laporan keuangan komersial, keduanya memiliki aturan penyusunan masing-masing yang saling berkaitan erat. Penyusunan laporan tentunya ada yang menggunakan prinsip-prinsip perpajakan maupun akuntansi. Mengenai pengertian dan maksud dari laporan keuangan fiskal dapat diketahui dari penjelasan sebelumnya, yaitu laporan yang disusun untuk keperluan pajak. Lalu, bagaimana dengan maksud dari laporan keuangan komersial? 

laporan keuangan fiskal

Laporan keuangan komersial dibuat dengan cara menyesuaikan prinsip-prinsip akuntansi yang bersifat netral atau tidak memihak, dalam pembuatannya tentu sudah berdasarkan standar yang telah ditentukan bersama. Nah, selanjutnya adalah perbedaan antara kedua laporan keuangan ini. Untuk lebih jelas, silahkan simak uraian berikut:

1. Pendapatan atau Penghasilan

Konsep penghasilan perpajakan dan akuntansi memiliki perbedaan. Hal tersebut sangat wajar karena pembuatan kedua laporan keuangan memiliki maksud dan tujuan yang berbeda. Pada pembuatan laporan keuangan komersial yang menggunakan prinsip-prinsip akuntansi antara revenue (pendapatan) dan income (penghasilan), keduanya termasuk dalam struktur laporan keuangan, meskipun pendapatan dan penghasilan adalah dua hal yang berbeda. 

Sedangkan pada pembuatan laporan keuangan fiskal (akuntansi pajak), penghasilan dan pendapatan adalah hal yang sama. Padahal menurut Undang-undang Nomor 36 (2008:4) yang mengambil sudut pandang akuntansi untuk menentukan konsep penghasilan, dikatakan bahwa setiap hal yang diterima oleh Wajib Pajak dalam bentuk apapun, baik itu menambah kekayaan atau untuk dikonsumsi, yang berasal dari dalam atau luar negeri disebut sebagai penghasilan. 

Menurut Undang-undang tentang pajak penghasilan Nomor 36 Pasal 4 tahun 2008 mengkategorikan fiskal kedalam 3 kelompok:

  1. Objek pajak penghasilan yang bukan merupakan penghasilan.
  2. Pajak penghasilan final yang ditetapkan berdasarkan penghasilan.
  3. Objek pajak penghasilan yang merupakan penghasilan itu sendiri. 

Inilah yang menyebabkan konsep penghasilan fiskal dengan SAK memiliki pendapat yang berbeda mengenai pengelompokkan penghasilan. Dimana pajak yang tidak akan ditambahkan pada laba fiskal dari penghasilan yang bukan objek pajak. Silahkan baca Undang-undang tentang Pajak Penghasilan Nomor 36 Pasal 4 untuk mengetahui lebih jelas mengenai pengkategorian penghasilan.

2. Konsep Beban yang Diterapkan

Pandangan konsep beban antara sisi fiskal dan komersial juga berbeda. Kalau dari pandangan fiskal, beban didefinisikan sebagai biaya untuk memelihara, memperoleh, dan menagih penghasilan dari perolehan penghasilan yang terkait secara langsung. Sedangkan konsep beban menurut pandangan akuntansi erat kaitannya dengan penurunan manfaat ekonomi yang terjadi dalam periode akuntansi tertentu. Beban tersebut direpresentasikan dalam bentuk berkurangnya aktiva atau arus keluar yang dapat menyebabkan ekuitas menurun. 

3. Nilai Persediaan dan Konsep Penyusutan

Nilai persediaan didefinisikan sebagai harga pokok yang dihitung dengan mengambil penggunaan dan persediaan, yang kemudian menggunakan metode FIFO atau rata-rata untuk memperoleh harga perolehan. Perhitungan harus dilakukan secara konsisten dan inilah pandangan nilai persediaan yang diambil dari konsep undang-undang perpajakan. 

Sedangkan untuk konsep penyusutan yang ditetapkan menurut prinsip akuntansi umur sebenarnya menjadi dasar umur aktiva, sedangkan berdasarkan undang-undang perpajakan konsep penyusutan dihitung menggunakan metode saldo menurun dan metode garis lurus. 

Nah, begitulah sekilas tentang pengertian laporan keuangan fiskal, lengkap perbedaannya dengan laporan keuangan komersial dari pandangan akuntansi dan undang-undang perpajakan. Semoga bermanfaat!

Tagged : # #

admin